Stuff Order
Software Gratis
P-SKAN Yogyakarta

Menelusuri Kisah Unik Mayat Trunyan


Buleleng - Bali sebagai salah satu tujuan wisata di Indonesia yang telah mendunia ternyata menyimpan misteri. Ada banyak wilayah yang konon seram dan nampak memiliki kisah unik dan misteri, salah satunya wilayah Trunyan.

Wilayah Trunyan cukup luas dan memiliki desa yang juga disebut Trunyan, terletak di daerah pegunungan di kaki Gunung Abang. Lokasi ini merupakan lokasi terpencil dan terisolasi di pantai timur Danau Batur, Buleleng.

Warga Trunyan sering disebut sebagai Warga Bali Aga (Bali Asli), klasifikasi ini mengacu pada cara hidup yang konservatif pra-Hindu  kuno, kebiasaan neolitik dan secara sadar menghindari pengaruh dari luar.

Berbeda dengan warga Bali lain, masyarakat Trunyan memiliki dua kasta, banjar jero dan jaba banjar. Kasta ini tidak didasarkan pada ide-ide Hindu kemurnian, tetapi ditentukan oleh keturunan selama periode dinasti Gelgel yang memerintah di Bali Aga. Menurut prasasti Pelat Tembaga di salah satu tempat suci, di kuil utama desa tertulis abad 10 AD (833 Çaka), meskipun desa ini diyakini jauh lebih tua dari kuil tersebut.

Sistem kasta adalah contoh penting ketika pengaruh luar juga mempengaruhi kehidupan rakyat Trunyan termasuk pola interaksi, semisal di tempat lain juga ada badui luar dan dalam. Bagi warga banjar jero, mereka diakui sebagai keturunan penguasa, atau orang Trunyan yang diangkat oleh raja-raja Gelgel untuk memerintah. Sementara orang-orang dari jaba banjar adalah keturunan orang-orang biasa,  mereka yang dikuasai oleh jero banjar.

Desa Trunyan sendiri terletak di tepi Danau Batur. Lokasi ini tidak bisa diakses kecuali dengan perahu, dan dibutuhkan sekitar setengah jam di perairan tenang. Butuh waktu sekitar dua jam perjalanan ke timur laut Denpasar sepanjang jalan utama ke Buleleng dan melalui Kabupaten Bangli.

Ada tradisi yang cukup membuat bulu kuduk berdiri ketika Anda mengunjungi daerah Trunyan ini. Ini menyangkut upacara pemakaman Trunyan yang tidak lazim. Warga Trunyan menaruh mayat yang meninggal di sebuah kawasan yang ditumbuhi pohon kemenyan, cara ini berbeda dengan warga Bali pada umumnya yang melakukan upacara Ngaben.

Sebelum mayat yang meninggal diletakkan di tempatnya, dilakukan ritual pembersihan dengan air hujan dulu. Tubuh almarhum ditempatkan dalam kandang bambu di bawah pohon taru menyan yang dipercaya menyimpan kekuatan alam, khususnya angin.  Warga yang telah meninggal, jenazahnya dimakamkan di atas batu besar yang memiliki cekungan tujuh buah.

Jenazah hanya dipagari bambu anyam secukupnya, dan ini khusus bagi tubuh orang menikah. Jika yang meninggal belum menikah, tubuh biasanya dimakamkan di pemakaman biasa tak tertutup. Di desa ini ada tiga kuburan (sema) yang diperuntukan bagi tiga jenis kematian yang berbeda. Apabila salah seorang warga Trunyan meninggal secara wajar, mayatnya akan ditutupi kain putih, diupacarai, kemudian diletakkan tanpa dikubur di bawah pohon besar bernama Taru Menyan, di sebuah lokasi bernama Sema Wayah. Namun, apabila penyebab kematiannya tidak wajar, seperti karena kecelakaan, bunuh diri, atau dibunuh orang, mayatnya akan diletakan di lokasi yang bernama Sema Bantas. Sedangkan untuk mengubur bayi dan anak kecil, atau warga yang sudah dewasa tetapi belum menikah, akan diletakan di Sema Muda.

Uniknya, walaupun tidak dibalsem dan tidak diawetkan, jenazah tersebut tidak menyebarkan bau busuk. Alasan bau busuk tidak menyebar disebabkan pohon Taru Menyan tersebut, yang bisa mengeluarkan bau harum dan mampu menetralisir bau busuk mayat. Taru berarti pohon, sedang Menyan berarti harum. Pohon Taru Menyan ini, hanya tumbuh di daerah ini. Jadilah Tarumenyan yang kemudian lebih dikenal sebagai Trunyan yang diyakini sebagai asal usul nama desa tersebut.

Satu kepercayaan warga desa Trunyan lain yang dipegang teguh yaitu perempuan tidak diizinkan untuk menghadiri upacara Pengiriman mayat, yang membawa tubuh ke pohon taru menyan atau ke pemakaman. Alasannya karena menurut kepercayaan, jika dilanggar maka desa akan dilanda oleh bencana, seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, atau tanah longsor. (imm/imm)


source : today.co.id

KOMENTAR untuk "Menelusuri Kisah Unik Mayat Trunyan"

Artikel Terkait



Ikuti lewat email

 
Copyright © 2011 - 2014 | DachiNet | All right reserved.
Best view on mozilla, internet explore, google crome and opera.